Sabtu, 27 Oktober 2012

PKS Berbagi Sepenuh Hati di Idul Adha


Lhokseumawe, 27 Oktober 2012 DPD PKS Kota Lhokseumawe ingin berbagi, di Hari Qurban yang tiap tahunnya dirayakan umat Islam di seluruh dunia. Untuk itu, PKS menggelar acara bertajuk ”Berqurban Sepenuh Hati Bersama PKS bertepatan dengan perayaan Idul Adha 1433 H.. Acara penyembelihan hewan qurban dipusatkan  di halaman kantor DPD PKS Kota Lhokseumawe.

“Acara ini setiap tahun dilaksanakan oleh PKS dengan tujuan utama untuk ikut merayakan Idul Adha dan berbagi qurban sepenuh hati kepada masyarakat tak mampu di hari nan suci,” tutur Yusrizal, Ketua DPD PKS Kota Lhokseumawe. “Pada momen istimewa ini kami memotong sebanyak 5 ekor sapi dan 4 ekor kambing, Pembagiannya akan di serahkan kepada DPC PKS Kec. Banda Sakti, Kec. Muara Dua, Kec. Muara Satu dan Kec. Blang Mangat untuk disalurkan kepada masyarakat yang kurang mampu.

Ketua Panitia Penerimaan Qurban DPD PKS Kota Lhokseumawe, Chairuli, A.Md mengatakan bahwa acara “Berqurban Sepenuh Hati bersama PKS” ini memang mempunyai arti tersendiri bagi para penerima Qurban. Mereka tidak hanya dapat merasakan berkah dari pembagian Qurban tetapi juga mempererat tali silaturrahim bersama kader-kader PKS Kota Lhokseumawe. "Terima kasih terdalam kami sampaikan kepada semua pihak yang ikut serta mempersiapkan acara ini dengan sepenuh hati terutama panitia penerima hewan qurban, kader & simpatisan PKS yang telah memberikan kepercayaan kepada DPD PKS Kota Lhokseumawe untuk menyalurkan hewan qurbannya.


By. Muhammad





Minggu, 21 Oktober 2012

Fadhilah Ibadah 10 Hari Bulan Dzulhijjah

Di antara amaliyah yang dianjurkan untuk dikerjakan pada bulan ini adalah:

1. Takbir,  Tahlil dan Tahmid
عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “ما من أيام أفضل عند الله ولا أحب إليه العمل فيهن من أيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد”.
Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah SAW bersabda, ”Tiada hari-hari dimana amal shalih paling utama di sisi Allah dan paling dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Perbanyaklah pada hari itu dengan Tahlil, Takbir dan Tahmid.”  (HR Ahmad dan Al-Baihaqi) Berkata imam al-Bukhari, ”Ibnu Umar RA dan Abu Hurairah RA pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah pergi ke pasar bertakbir dan manusia mengikuti takbir keduanya.”
2. Puasa sunnah, khususnya puasa sunnah ‘Arafah
عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قالَ  : سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ؟ فَقَالَ: “يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Dari Abu Qatadah RA berkata, Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari ‘Arafah? Rasul saw menjawab, ”Menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim)
3. Memperbanyak amal ibadah, karena  pahalanya dilipatgandakan, seperti shalat, dzikir, takbir, tahlil, tahmid, shalawat, puasa  infak, dan lain-lain.
وعن جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أفضل أيام الدنيا العشر يعني عشر ذي الحجة قيل ولا مثلهن في سبيل الله قال ولا مثلهن في سبيل الله إلا رجل عفر وجهه بالتراب
Dari Jabir RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baiknya hari dunia adalah sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” Ditanya, “Apakah jihad  di jalan Allah tidak sebaik itu?” Rasul SAW menjawab, ”Tidak akan sama  jika dibandingkan dengan jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang menaburkan wajahnya dengan debu (gugur sebagai syahid).” (HR Al-Bazzar dengan sanad yang hasan dan Abu Ya’la dengan sanad yang shahih)
4. Shalat ‘Idul Adha, mendengarkan khutbah dan berqurban pada Hari Nahr (10 Dzulhijjah). Allah Ta’ala berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Di antara makna perintah shalat di sini adalah shalat Idul Adha. Berkata Ar-Rabi’, “Jika engkau selesai shalat di hari Idul Adha, maka berkurbanlah.” Rasulullah bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: { كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَخْرُجُ يَوْمَ اَلْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى اَلْمُصَلَّى, وَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ اَلصَّلَاةُ, ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ اَلنَّاسِ -وَالنَّاسُ عَلَى صُفُوفِهِمْ- فَيَعِظُهُمْ وَيَأْمُرُهُمْ } مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Said berkata, “Rasulullah SAW keluar di hari Idul Fitri dan Idul Adha ke tempat shalat. Yang pertama dilakukan adalah shalat, kemudian menghadap manusia –sedang mereka tetap pada shafnya- Rasul saw berkhutbah memberi nasihat dan menyuruh mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)
وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ اَلْعَوَاتِقَ, وَالْحُيَّضَ فِي الْعِيدَيْنِ; يَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَيَعْتَزِلُ اَلْحُيَّضُ اَلْمُصَلَّى مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Ummi ‘Athiyah berkata, ”Kami diperintahkan agar wanita yang bersih dan yang sedang haidh keluar pada Dua Hari Raya, hadir menyaksikan kebaikan dan khutbah umat Islam dan orang yang berhaidh harus menjauhi tempat shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi)
5. Takbir dan berkurban di Hari Tasyriq
وَاذْكُرُواْ اللّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ
“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah). Para ulama sepakat bahwa beberapa hari berbilang adalah hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.
Imam Al-Bukhari memasukkan hari Tasyriq pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah, dan memiliki keutamaan yang sama sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani memberikan komentar dalam kitabnya Fathul Bari: pertama, bahwa kemuliaan hari Tasyriq mengiringi kemuliaan Ayyamul ‘Asyr; kedua, keduanya terkait dengan amal ibadah haji; ketiga,  bahwa sebagian hari Tasyriq adalah sebagian hari ‘Ayyamul ‘Asyr yaitu hari raya Idul Adha.
Pada hari Tasyriq juga masih disunnahkan untuk berkurban. Rasulullah SAW bersabda,
وكل أيام التشريق ذبح
“Seluruh hari Tasyriq adalah hari penyembelihan (kurban).” (HR Ahmad) [dakwatuna]